Breaking News

puisi jeritan masyarakat penambang tradisional Bangka barat


(Di Sela Pori-Pori Tanah Sejiran Setason)
Di bawah langit yang tak pernah bertanya, Kami memahat harapan pada dinding-dinding tanah yang luka. Tujuh puluh delapan persen nafas di negeri ini, Adalah deru mesin dan ayunan cangkul yang sunyi.

Bukan emas yang kami impikan dalam tidur yang singkat, Hanya sebungkus nasi dan kehidupan yang sedikit lebih lekat. Namun di setiap galian yang kami gali dengan sisa tenaga, Selalu ada bayang-bayang aturan yang mengepung raga.

Perizinan yang Tak Menyentuh Jemari Kami

Surat-surat itu terasa sejauh bintang di angkasa, Sementara perut tak bisa menunggu birokrasi yang penuh jeda. Kami terbentur dinding kertas, kami terjepit pasal-pasal, Padahal yang kami bawa pulang hanyalah letih yang kekal.

Duhai angin yang berhembus dari pesisir Muntok hingga Parittiga, Sampaikan pada mereka yang duduk di kursi bertahta; Kami bukan perampok kekayaan yang haus akan angka, Kami hanya jiwa-jiwa yang ingin bertahan dari duka.

Doa di Lubang Tambang

Tangan kami hitam oleh lumpur, tapi hati kami jernih, Mencari rezeki halal di antara kerikil yang pedih. Jangan hukum kami karena ingin menyambung nyawa, Di tanah sendiri, mengapa kami merasa bak narapidana?

Biarkan kami memungut sisa kebaikan bumi, Sebab bagi kami, hidup adalah tentang esok yang masih bisa kami temui. Bukan tentang kemewahan yang megah dan fana, Tapi tentang cukupnya nasi di atas meja tua.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - LINTAS BABEL NEWS | SUPPORT PIXINDONESIA DIGITAL SOLUTION