Tempilang, Bangka Barat — Sore di pesisir Tempilang, Senin (9/2/2026), berubah menjadi lautan manusia ketika Andika Kangen Band menjejakkan kaki di panggung utama Festival Perang Ketupat Tempilang 2026. Ribuan pasang tangan terangkat, suara bernyanyi menyatu, dan tepuk sorak membelah udara pantai. Dalam hitungan menit, tradisi adat yang lahir dari ritual leluhur itu menjelma menjadi pesta budaya rakyat terbesar yang pernah dicatat Bangka Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun di balik gegap gempita musik pop melayu dan euforia massa, festival ini sesungguhnya menandai sesuatu yang lebih besar yaitu politik kebudayaan yang dijalankan dengan sadar dan terukur oleh Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman.
Kehadiran Andika Kangen Band bukan sekadar hiburan. Ia adalah magnet emosi kolektif kelas akar rumput. Lagu-lagu yang selama bertahun-tahun hidup di warung kopi, radio kampung dan pesta rakyat, menemukan ruang perayaannya di Tempilang.
“Ini bukan sekadar konser. Ini perayaan budaya yang penuh kehangatan dan kebersamaan,” ujar Andika di atas panggung, disambut gemuruh ribuan penonton yang memadati area pantai hingga meluber ke luar pagar pembatas.
Perpaduan musik pop melayu dengan ruang adat menciptakan suasana tanpa sekat yaitu penonton, tokoh adat, aparat, pejabat dan pelaku UMKM berdiri dalam satu ritme. Tradisi tidak terasa kaku. Ia hidup, bernyanyi dan dirayakan.
“Datang niat nonton Perang Ketupat, pulangnya dapat konser besar,” kata Rina (27), warga Mentok.
“Rasanya seperti lebaran budaya,” timpal Johan (41), warga Kelapa.
Sejak Minggu (8/2/2026), Festival Perang Ketupat telah diawali dengan rangkaian ritual adat: Penimbongan, Ngancak Penimbong, Taber Kampung, tarian Serimbang dan Kedidi, hingga silat Seramo adat dari perguruan Mawar Putih. Doa arwah dan doa selamat menegaskan bahwa Perang Ketupat bukan sekadar atraksi wisata, melainkan ritual spiritual yang berakar pada penghormatan leluhur.
Justru di titik inilah strategi kebudayaan bekerja kepada ritual dijaga kesakralannya, sementara perayaannya dibuka selebar-lebarnya untuk rakyat.
H. Yus Derahman dan Kebudayaan yang Dihidupkan
Di tengah euforia itu, H. Yus Derahman tampil bukan hanya sebagai pejabat, melainkan arsitek kebijakan kebudayaan. Ia membaca Perang Ketupat bukan sebagai agenda seremoni tahunan, tetapi sebagai modal sosial, identitas kolektif dan penggerak ekonomi rakyat.
“Perang Ketupat ini sudah hidup puluhan tahun. Ia adalah jati diri masyarakat Tempilang. Tokoh adat menjaga ruhnya, dan pemerintah berkewajiban memastikan keberlanjutannya,” ujar Yus Derahman.
Keputusan menghadirkan Andika Kangen Band menjadi simbol keberanian pembangunan kebudayaan untuk mengawinkan tradisi dengan selera massa tanpa menghilangkan ruh adat.
“Budaya tidak boleh kita kurung di masa lalu. Ia harus kita hidupkan, kita rayakan, dan kita jadikan kekuatan pembangunan,” tegasnya.
Bagi Yus Derahman, budaya bukan hanya warisan, melainkan instrumen kebijakan sebagai cara paling efektif menyentuh rakyat tanpa jargon, tanpa jarak.
Lebih jauh, Yus Derahman membuka arah besar pembangunan kebudayaan Bangka Barat. Tempilang diproyeksikan sebagai kawasan budaya terpadu.
“Ke depan, lahan-lahan akan dibebaskan melalui mekanisme desa, diselesaikan secara administratif, lalu diajukan ke pemerintah pusat. Kami ingin Tempilang menjadi ruang budaya yang berkelanjutan,” katanya.
Pernyataan ini menempatkan Perang Ketupat bukan sekadar agenda event, tetapi fondasi kebijakan jangka panjang.
Kesuksesan Festival Perang Ketupat Tempilang 2026 juga ditopang dukungan lintas sektor yaitu Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, pemerintah desa, tokoh adat, serta BUMN dan swasta nasional seperti PT Timah, PLN, Bank Sumsel Babel, BRI, IM3, Honda, Thorcon Power Indonesia, hingga pelaku UMKM lokal.
Ratusan lapak UMKM memenuhi kawasan festival. Panggung megah dan sistem suara profesional berdiri berdampingan dengan gerobak rakyat.
“Dagangan kami ludes. Kalau bisa, acara seperti ini sering-sering diadakan.” ujar Nurhayati (39), pedagang kuliner.
Festival Perang Ketupat Tempilang 2026 menjadi bukti bahwa kebudayaan bisa menjadi ruang temu antara adat, pop culture dan kebijakan publik. Ketupat tetap dilempar sebagai simbol rekonsiliasi dan syukur, sementara musik Andika Kangen Band menjadi jembatan yang menggerakkan massa.
Di Tempilang, sore itu, rakyat bernyanyi.
Dan di balik nyanyian itu, politik kebudayaan Yus Derhaman bekerja halus, membumi dan efektif.
Perang Ketupat tak lagi sekadar warisan masa lalu. Ia telah menjadi denyut hidup kebudayaan Bangka Barat hari ini dan mungkin arah masa depannya.


Social Header