Tempilang, Bangka Barat — Pada Kamis sore, 5 Februari 2026, lapangan sepak bola Persit Air Lintang di Tempilang tidak sekadar menjadi arena pertandingan. Di atas tanah yang berdebu dan rumput yang terinjak ribuan kaki, berlangsung sebuah peristiwa sosial yang lebih besar pertemuan antara olahraga desa, identitas kolektif dan arah kebijakan pembangunan prestasi di Bangka Barat.
Ruah Cup Tempilang 2026, turnamen sepak bola antar desa paling bergengsi di Bangka Belitung, memperlihatkan bagaimana olahraga rakyat bekerja sebagai fondasi pembangunan manusia. Ribuan penonton terdiri anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga orang tua memadati sisi lapangan. Mereka duduk di tanah berumput, berdiri di balik pagar kayu seadanya atau berjejal di tribun alami. Sorak-sorai membentuk irama kolektif, menegaskan bahwa sepak bola di desa bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa sosial yang hidup.
Di tengah kerumunan itu, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman hadir langsung menyaksikan laga semifinal. Tanpa jarak protokoler yang kaku, ia duduk sejajar dengan warga, menyapa penonton dan mengikuti jalannya pertandingan hingga akhir. Kehadiran ini memberi pesan politik yang jelas bahwa prestasi olahraga tidak boleh dilahirkan dari ruang-ruang eksklusif, tetapi harus tumbuh dari desa sebagai akar kebudayaan dan energi sosial Bangka Barat.
Pertandingan semifinal antara Himawari Desa Labu dan Rajawali Desa Ranggung berlangsung dalam tensi tinggi. Dua kali tiga puluh menit waktu normal berakhir tanpa gol. Duel fisik, jual beli serangan, dan benturan keras membuat wasit Abu Hanifah mengeluarkan beberapa kartu kuning demi menjaga ritme permainan.
Ketika laga harus ditentukan melalui adu penalti, ribuan penonton terdiam. Empat penendang Himawari Labu menunaikan tugas dengan tenang, sementara satu penendang Rajawali gagal menembus gawang. Hasil ini mengantar Himawari Labu ke partai final.
Namun, dalam perspektif yang lebih luas, skor menjadi sekunder. Yang utama adalah proses sosial di baliknya: disiplin latihan, pembinaan mental, dan dukungan komunitas. “Penalti bukan hanya teknik, tapi keberanian. Anak-anak ini kami latih untuk tidak gentar,” ujar pelatih Himawari Labu.
Pada semifinal pertama, Persiraja Desa Jelutung tampil efektif melalui dua gol striker Yogi. Kemenangan itu kembali menegaskan bahwa kompetisi desa adalah ruang pembelajaran yang nyata tempat kesalahan, ketenangan dan keberanian diuji di hadapan publik sendiri.
Dalam keterangannya, Yus Derahman menegaskan bahwa desa adalah fondasi pembinaan prestasi olahraga. “Prestasi tidak lahir dari kota saja. Desa adalah akar. Turnamen seperti Ruah Cup ini menjadi ruang menemukan dan membina bakat Bangka Barat,” ujarnya.
Pernyataan ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang menempatkan olahraga sebagai instrumen pembangunan manusia, penguatan karakter, dan kohesi sosial. Dalam kerangka ini, kehadiran kepala daerah di ruang olahraga desa bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari legitimasi kebijakan publik.
Lebih jauh, arah kebijakan tersebut berkelindan dengan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. DBON menekankan pembinaan berjenjang, partisipasi massal dan identifikasi talenta sejak dini semuanya tercermin dalam praktik Ruah Cup Tempilang. Turnamen ini menjadi miniatur implementasi DBON di tingkat lokal, meski masih dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dan dukungan anggaran.
Ruah Cup Tempilang merupakan bagian dari rangkaian Pesta Adat Perang Ketupat Ruah Tempilang 2026. Ketua Panitia, Sahanan, menyebut turnamen ini sebagai pertemuan antara tradisi dan modernitas. “Sepak bola adalah bahasa universal. Ketika dipadukan dengan adat, masyarakat merasa memiliki,” katanya.
Kegiatan yang terekam selama pertandingan memperlihatkan wajah olahraga desa yang autentik dengan tokoh masyarakat duduk di meja kayu panjang di bawah tenda sederhana, penonton setia meski fasilitas terbatas, serta pemain yang merayakan kemenangan dengan bendera dan kepalan tangan terangkat. Olahraga, dalam konteks ini, menjadi ekologi sosial sebagai ruang bertemunya generasi, identitas dan aspirasi kolektif.
Bagi warga Tempilang, pertandingan ini menyentuh ranah harga diri.
“Kami bukan cuma nonton bola. Ini tentang anak-anak kami, tentang kampung kami,” ujar Andi (37).
Babak final Ruah Cup Tempilang 2026 akan digelar Minggu, 8 Februari 2026, mempertemukan Himawari Desa Labu dan Persiraja Desa Jelutung. Namun bagi Bangka Barat, makna turnamen ini melampaui siapa yang mengangkat piala.
Dalam kacamata kebijakan prestasi, Ruah Cup membentuk legacy kepemimpinan H. Yus Derahman: olahraga sebagai alat pembangunan sosial, bukan sekadar seremoni. Kehadiran negara di lapangan desa memperlihatkan bahwa kebijakan tidak berhenti pada dokumen, tetapi diuji di tanah berdebu tempat anak-anak muda berlari mengejar bola.
Jika konsistensi kebijakan ini dijaga melalui pembinaan usia dini, kompetisi berkelanjutan dan perbaikan sarana maka sepak bola desa berpotensi melahirkan bukan hanya atlet berprestasi, tetapi juga warga yang sehat, solid dan percaya bahwa negara hadir dalam kehidupan mereka.
Pengalaman Ruah Cup Tempilang menunjukkan bahwa pembinaan prestasi olahraga di daerah tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya desa. Kebijakan olahraga yang efektif bukan hanya soal anggaran dan infrastruktur, tetapi juga soal keberpihakan pada ruang-ruang komunitas.
Bangka Barat memiliki peluang besar menjadikan desa sebagai basis pembinaan atlet. Turnamen antar desa yang reguler, pelatih komunitas yang diperkuat, serta integrasi dengan sekolah dan klub lokal dapat membentuk ekosistem prestasi yang berkelanjutan. Dalam kerangka ini, peran pemerintah daerah adalah memastikan kesinambungan, bukan sekadar kehadiran seremonial.
Sumber Literatur:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.
Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).
Data Panitia Pesta Adat Perang Ketupat Ruah Tempilang 2026.
Arsip pemberitaan olahraga desa Bangka Barat.
Wawancara lapangan dengan masyarakat Tempilang, 5 Februari 2026.


Social Header