Breaking News

Dari Masjid Tegal Rejo Mentok, Aksi Kemanusiaan Ramadhan Menguatkan Harapan Anak Yatim



Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

MENTOK, BANGKA BARAT — Sore Ramadhan itu turun perlahan di Tegal Rejo Mentok, Senin (16/03/2026). Cahaya langit meredup seperti menahan sesuatu yang hendak terjadi. Angin yang berembus lembut menyapu halaman Masjid Al-Hidayah Tegal Rejo Mentok, membawa aroma tanah dan doa yang belum selesai dipanjatkan.

Di dalamnya, manusia berkumpul. Namun bukan sekadar untuk menunggu azan Magrib.

Di antara kerumunan itu, duduk anak-anak dengan pakaian sederhana. Anak-anak yang hidupnya lebih cepat mengenal kehilangan daripada kebanyakan orang dewasa. Tatapan mereka tidak bising, tetapi penuh makna. Seolah menunggu bukan hanya santunan, melainkan pengakuan bahwa mereka masih menjadi bagian dari dunia ini.

Di titik itulah, Masjid Al-Hidayah menjelma.

Ia tidak lagi sekadar bangunan ibadah. Ia berubah menjadi panggung aksi kemanusiaan tempat kemanusiaan dipertontonkan tanpa tepuk tangan, tanpa sorot kamera berlebih, tetapi dengan daya gugah yang jauh lebih kuat.

Tahun ini, sebanyak 11 anak yatim dan piatu, 3 guru ngaji, serta 4 guru Madrasah Al-Hidayah menerima santunan. Angka-angka itu sederhana. Namun di baliknya, ada narasi besar kepada masyarakat yang memilih untuk tidak menutup mata.

Gerakan itu tidak lahir dari kekuatan besar. Ia tumbuh dari kegelisahan kecil yang kemudian dipelihara menjadi kekuatan sosial.

Di pusat gerakan itu berdiri Sarbudiono, S.Pd. Ketua Masjid Al-Hidayah, sekaligus pejabat yang sehari-hari bergelut dengan isu perlindungan anak di Bangka Barat.

Namun sore itu, ia tidak tampil sebagai pejabat.

Ia hadir sebagai manusia.

Sebagai seseorang yang memilih untuk tidak memisahkan antara jabatan dan nurani.

“Ramadhan tidak boleh berhenti di sajadah. Ia harus turun ke jalan kehidupan, menyentuh mereka yang paling membutuhkan.” ucapnya pelan namun tegas. 

Kalimat itu bukan sekadar pernyataan. Ia adalah garis ideologis dari gerakan yang sedang dibangun.

Di tangan Sarbudiono, masjid tidak lagi diposisikan sebagai ruang ritual semata. Ia diangkat menjadi pusat distribusi empati, tempat di mana kepedulian tidak hanya dibicarakan, tetapi dipraktikkan.

Satu per satu amplop berpindah tangan. Dari tangan yang memberi, ke tangan yang menerima.

Namun yang berpindah sesungguhnya bukanlah uang.

Melainkan harapan.

Beberapa anak tersenyum. Beberapa menunduk, menahan sesuatu yang tidak mudah diucapkan. Di wajah-wajah kecil itu, tergambar satu hal yang sering luput dari perhatian betapa berharganya rasa dianggap ada.

“Perhatian sekecil apa pun bisa menjadi kekuatan besar bagi mereka,” kata Sarbudiono.

Di situlah, ia tidak hanya membangun kegiatan.

Ia sedang membangun citra bahwa masjid bisa menjadi pusat keberpihakan. Bahwa kekuasaan, jika berpihak, bisa menjadi jembatan bagi yang lemah.

Namun gerakan ini tidak berdiri sendiri.

Ia disempurnakan oleh suara yang datang dari mimbar, suara Zumrowi Achyar, S.Ag., pembina masjid, yang tidak hanya mengisi ruang dengan kata-kata, tetapi dengan makna.

Dalam tausiyahnya, Zumrowi tidak berbicara tentang langit yang jauh. Ia berbicara tentang bumi yang dekat tentang manusia, tentang tanggung jawab.

“Memuliakan anak yatim bukan sekadar anjuran. Ia adalah ukuran kemanusiaan kita.” ujarnya. 

Kalimat itu jatuh perlahan, tetapi menghujam.

Ia seperti cermin untuk memaksa setiap orang yang hadir untuk melihat dirinya sendiri.

Zumrowi melanjutkan, menegaskan bahwa santunan tidak boleh berhenti pada seremoni.

“Yang harus kita jaga adalah rasa. Bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa mereka memiliki tempat pulang di tengah masyarakat,” katanya.

Lalu ia menatap anak-anak di hadapannya.

Suasana berubah hening.

“Anak-anakku. jangan pernah merasa kecil karena keadaan. Banyak orang besar lahir dari luka. Kalian bukan korban keadaan. Kalian adalah calon masa depan.” ucapnya lembut. 

Di titik itu, kata-kata berubah menjadi energi.

Anak-anak yang semula diam, kini menyimak dengan mata yang lebih hidup.

“Bermimpilah. Belajarlah. Karena dunia tidak bertanya dari mana kalian berasal, tetapi ke mana kalian melangkah,” lanjutnya.

Di situlah, aksi kemanusiaan itu bekerja bukan dengan paksaan, tetapi dengan penanaman harapan.

Masjid Al-Hidayah sore itu tidak hanya memberi santunan.

Ia sedang membentuk narasi.

Narasi bahwa masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang tidak meninggalkan yang lemah.

Narasi bahwa masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi tempat berdirinya solidaritas.

Narasi bahwa kepemimpinan bukan tentang jabatan, tetapi tentang keberpihakan.

Menjelang Magrib, langit Mentok berubah keemasan. Cahaya senja menyelinap di antara dinding masjid, menyentuh wajah-wajah yang kini tampak lebih tenang.

Ketika azan berkumandang, suara itu tidak hanya memanggil untuk berbuka.

Ia menjadi penanda bahwa sesuatu telah terjadi.

Bahwa di sebuah sudut kecil Tegal Rejo, sebuah gerakan sedang tumbuh perlahan, tetapi pasti.

Gerakan yang tidak berisik, tetapi berdampak.

Gerakan yang tidak mencari sorotan, tetapi justru layak disorot.

Gerakan yang membuktikan bahwa kepedulian, jika dirawat dengan konsisten, dapat menjadi kekuatan paling senyap namun paling mengguncang.

Di antara senyum anak-anak yatim yang kini tidak lagi terasa sendiri, Ramadhan kembali menemukan maknanya yang paling jujur bahwa kemanusiaan adalah ibadah yang paling nyata
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - LINTAS BABEL NEWS | SUPPORT PIXINDONESIA DIGITAL SOLUTION