Breaking News

Dari Tangan OJK ke Pelukan Ibu: Kisah 100 Keluarga Bertahan Melawan Stunting di Bangka Barat



Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim 
SIMPANG TERITIP, BANGKA BARAT —
Seratus paket nutrisi dibagikan. Seratus keluarga tersenyum. Seratus harapan kembali dinyalakan.

Namun di balik angka yang tampak rapi itu, terselip satu kenyataan yang tak pernah benar-benar selesai bahwa di negeri yang kaya sumber daya, masih ada anak-anak yang tumbuh tanpa cukup gizi.

Pada Kamis (9/4/2026), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyalurkan 100 paket nutrisi kepada keluarga berisiko stunting di Kecamatan Simpang Teritip. Program ini merupakan bagian dari gerakan literasi keuangan bertajuk “Keuangan Rumah Tangga Kuat, Anak Tumbuh Hebat”, hasil kolaborasi dengan BKKBN, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, dan BPJS Ketenagakerjaan.
Bantuan disalurkan. Edukasi diberikan. Tepuk tangan terdengar.

Namun pertanyaannya mengapa bantuan seperti ini masih harus ada?

Stunting tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, diam-diam, seperti kebiasaan yang dianggap biasa.

Memberi makan anak sekadarnya.
Menganggap kenyang lebih penting dari gizi.
Mengutamakan kebutuhan lain dibandingkan makanan bergizi.

Menurut World Health Organization, stunting adalah akibat kekurangan gizi kronis pada masa awal kehidupan. Namun dalam praktiknya, ia juga merupakan hasil dari keputusan-keputusan kecil yang terus diulang setiap hari.

Di sinilah ironi itu berdiri banyak keluarga tidak sadar bahwa mereka sedang membentuk masa depan anak dengan cara yang salah.

Di dalam Gedung Serba Guna Simpang Teritip, ratusan ibu duduk rapi.
Anak-anak mereka ada di pangkuan, di bahu atau tertidur di kursi.

Suasana terlihat hangat.
Namun di balik itu, tersimpan cerita yang tidak selalu indah.

Seorang ibu muda, sebut saja Nur (26), menggenggam erat paket bantuan yang baru diterimanya.

“Kadang kami makan seadanya. Yang penting anak tidak lapar,” katanya.

Kalimat itu terdengar biasa.
Padahal di situlah masalah bermula.

Karena stunting tidak peduli apakah anak lapar atau tidak.
Ia hanya peduli apakah tubuh anak mendapatkan gizi yang cukup.

Langkah Otoritas Jasa Keuangan dalam program ini terasa berbeda.

Mereka tidak hanya datang membawa bantuan, tetapi juga membawa sesuatu yang sering kali lebih langka yaitu pengetahuan.

Melalui literasi keuangan, keluarga diajarkan bahwa uang bukan hanya untuk dibelanjakan, tetapi untuk direncanakan, penghasilan kecil tetap bisa mencukupi jika diatur dengan benar dan yang paling penting gizi anak bukan pilihan melainkan kewajiban.

Wakil Kepala OJK Bangka Belitung menyampaikan bahwa lembaganya tidak ingin hanya dikenal sebagai pengawas keuangan.

“OJK harus hadir di tengah masyarakat. Kami ingin keluarga kuat secara ekonomi, agar anak-anak mereka tumbuh sehat,” ujarnya.

Ironi terbesar dari stunting adalah ini:
edukasi sering datang setelah masalah terjadi.

Ketika anak sudah terlambat tumbuh,
ketika tinggi badan tak lagi bisa dikejar,
ketika potensi sudah terpangkas sejak dini.

Program seperti ini menjadi pengingat keras bahwa pencegahan seharusnya dimulai lebih awal jauh sebelum bantuan diperlukan.

Namun setidaknya, hari itu, perubahan sedang dicoba.

Dalam kegiatan tersebut, BPJS Ketenagakerjaan menekankan pentingnya jaminan sosial.

Karena kenyataannya sederhana:
ketika penghasilan hilang, yang pertama dikorbankan adalah kualitas makanan.

Sementara itu, BKKBN mengingatkan bahwa keluarga adalah benteng utama pencegahan stunting.

Namun benteng itu akan rapuh jika tidak didukung ekonomi yang stabil.

Ketika acara selesai, ibu-ibu itu pulang membawa paket nutrisi.

Di tangan mereka, bantuan itu terlihat kecil.
Namun jika dilihat lebih dalam, ia sebagai cermin.

Cermin dari kondisi masyarakat.
Cermin dari ketimpangan.
Cermin dari sistem yang belum sepenuhnya menjamin kesejahteraan.

Namun juga cermin dari harapan.

Stunting bukan sekadar isu kesehatan.
Ia adalah persoalan masa depan.

Setiap anak yang gagal tumbuh optimal hari ini bagaimana potensi bangsa yang hilang esok hari.

Langkah Otoritas Jasa Keuangan di Simpang Teritip adalah awal yang baik.
Namun perang melawan stunting tidak bisa dimenangkan dengan satu program, satu hari atau satu bantuan.

Ia membutuhkan kesadaran kolektif.
Ia membutuhkan perubahan cara berpikir.
Ia membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa masalah ini nyata.

Di sebuah gedung sederhana di Bangka Barat, perang itu akhirnya dimulai.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - LINTAS BABEL NEWS | SUPPORT PIXINDONESIA DIGITAL SOLUTION