BANGKA BARAT – Di tengah gempuran modernisasi, semangat untuk melestarikan akar budaya leluhur tetap menyala di Kampung Kebun Nanas, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Mentok. Adalah Suparno, seorang pria tangguh sekaligus ayah dari empat anak, yang mendedikasikan hidupnya demi menghidupkan kembali kesenian Jawa di tanah rantau.
Langkah Pakde Suparno, sapaan akrabnya, terbilang luar biasa. Bukan sekadar menjadi penggerak, ia adalah "otak" sekaligus "tangan dingin" di balik berdirinya kelompok seni Kuda Lumping di lingkungannya. Menariknya, keterbatasan dana tidak menyurutkan niatnya untuk memiliki peralatan seni yang lengkap.
Hampir seluruh perangkat kesenian yang digunakan dibuat oleh Suparno dengan tangannya sendiri. Berbekal ketekunan dan keahlian kriya yang mumpuni, ia menciptakan:
Kuda Lumping: Dianyam dan dibentuk dengan detail yang presisi.
Gendang & Gong: Dirakit sedemikian rupa hingga menghasilkan nada yang harmonis.
Barongan: Diukir dengan ekspresi yang kuat sesuai pakem tradisi.
Peralatan Musik Pendukung: Berbagai instrumen pelengkap lainnya yang ia ciptakan secara mandiri.
"Semua peralatan ini saya buat sendiri. Selain untuk menghemat biaya, ada kepuasan batin ketika melihat anak-anak muda memainkan alat yang kita rakit dengan doa dan kerja keras," ujar Suparno saat ditemui di kediamannya.
Perjuangan Suparno bukan tanpa alasan. Sebagai pria yang memiliki empat orang anak, ia ingin mewariskan nilai-nilai luhur budaya Jawa kepada generasi penerus di Bangka Barat. Baginya, Kuda Lumping bukan sekadar tontonan, melainkan identitas dan pemersatu warga.
Kehadiran sosok seperti Pakde Suparno menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya tidak melulu soal dukungan anggaran besar, melainkan soal kemauan, kreativitas, dan cinta. Kini, warga Kampung Kebun Nanas dapat berbangga memiliki maestro lokal yang terus berjuang menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.



Social Header